Respons Peternak terhadap Inovasi Tepung Kulit Bawang Putih (Allium sativum) sebagai Pakan Aditif Antelmintik pada Ayam Kampung
Keywords:
Allium sativum, Antelmintik, Respons Peternak, Tepung Kulit Bawang Putih, Helminthiasis, Ayam Kampung, Penyuluhan PertanianAbstract
Penyakit cacingan (helminthiasis) masih menjadi tantangan berkelanjutan pada usaha peternakan ayam kampung (Gallus domesticus) sistem pemeliharaan rakyat, yang secara signifikan menghambat laju pertumbuhan, menurunkan produksi telur, dan melemahkan sistem imun tubuh ternak. Penelitian ini bertujuan untuk menguji respons peternak ayam kampung terhadap inovasi tepung kulit bawang putih sebagai pakan aditif antelmintik (pencegah cacingan) di Desa Banyusari, Kabupaten Magelang, serta mengidentifikasi faktor-faktor penentu utama yang memengaruhi perilaku adopsi tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-kuantitatif dengan metode campuran (mixed-methods) yang melibatkan 33 peternak ayam kampung aktif yang dipilih melalui teknik sampel bertujuan (purposive sampling). Intervensi lapangan meliputi kegiatan penyuluhan pertanian terstruktur, demonstrasi cara pengolahan (dosis pencampuran 0,5%–1,5% dalam pakan), dan praktik pembuatan pakan campuran. Respons total peternak secara keseluruhan mencapai skor rata-rata 71,63, yang tergolong dalam Kategori Tinggi. Evaluasi per domain menunjukkan tingkat kognitif berada pada kategori "Tahu" (78,79% Tahu, skor rata-rata 76,21), domain afektif berada pada kategori "Setuju" (54,55% Setuju, skor rata-rata 74,80), dan domain konatif berada pada kategori "Sangat Terampil" (42,43% Sangat Terampil, skor rata-rata 63,88). Hasil analisis regresi berganda membuktikan bahwa umur, tingkat pendidikan formal, pengalaman beternak, dan intensitas penyuluhan secara simultan (bersama-sama) berpengaruh sangat nyata (F = 18,421, P < 0,01, R^2 = 0,724) terhadap respons peternak. Hasil uji t parsial menunjukkan bahwa tingkat pendidikan formal (t = 4,812, P < 0,01) dan umur (t = -2,345, P < 0,05) merupakan faktor penentu yang signifikan, sedangkan pengalaman beternak (P > 0,05) dan intensitas penyuluhan (P > 0,05) berpengaruh tidak nyata.Kesimpulan: Peternak di Desa Banyusari menunjukkan kesiapan dan respons yang tinggi dalam mengadopsi tepung kulit bawang putih sebagai aditif pakan pencegah cacingan alami.
