Komposit Miselium Jamur sebagai Alternatif Material Hijau Pengganti Styrofoam: Tinjauan Kritis Formulasi, Kinerja Mekanis, dan Keberlanjutan
Keywords:
Expanded Polystyrene, kemasan berkelanjutan, limbah lignoselulosa, Mycelium-Based Composite, Pleurotus ostreatusAbstract
Penggunaan kemasan pelindung Expanded Polystyrene (styrofoam) secara masif memicu krisis lingkungan akibat sifatnya yang tidak dapat terurai secara alami dan ketergantungannya pada petrokimia. Mycelium-Based Composite (MBC) hadir sebagai inovasi material hijau alternatif yang memanfaatkan miselium jamur untuk mengikat limbah lignoselulosa. Kajian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh jenis jamur dan substrat terhadap karakteristik fisik-mekanik MBC, serta menentukan formulasi paling optimal sebagai pengganti styrofoam. Metode yang digunakan adalah Critical Narrative Review dengan mengumpulkan data literatur ilmiah global mengenai kinerja mekanis, formulasi bioproses, dan aspek keberlanjutan MBC. Hasil kajian menunjukkan bahwa Formulasi A1 yang mengombinasikan jamur tiram (Pleurotus ostreatus) dengan substrat serbuk gergaji dan sabut kelapa (rasio 3:2) merupakan resep paling optimal dan seimbang. Formulasi ini menghasilkan kuat tekan mencapai 0,432 MPa (lima kali lebih kuat dari styrofoam) dan indeks ketahanan api (LOI) > 21%. Meskipun memiliki kelemahan pada daya serap air yang tinggi (120–185%), stabilitas fisiknya tetap terjaga dan dapat ditingkatkan melalui teknik kempa panas. Berdasarkan analisis siklus hidup (LCA), produksi MBC mampu mereduksi emisi karbon hingga 57% dan dapat terurai sempurna di tanah dalam waktu 2 hingga 6 minggu tanpa meninggalkan residu berakik. Kesimpulannya, MBC dengan formulasi Pleurotus ostreatus berbasis limbah serbuk gergaji dan sabut kelapa memiliki potensi regulasi yang sangat layak dan kompetitif untuk menggantikan kemasan plastik sintetis demi mendukung ekonomi sirkular.
