Pengaruh Suhu Pengeringan terhadap Retensi Senyawa Bioaktif dan Kinerja Proses pada Produksi Palm Oil Powder Berbasis Crude Palm Oil: Suatu Telaah Sistematis
Keywords:
crude palm oil, efisiensi energi, palm oil powder, senyawa bioaktif, suhu pengeringanAbstract
Crude Palm Oil (CPO) merupakan sumber senyawa bioaktif alami seperti karotenoid, tokoferol, tokotrienol, dan senyawa fenolik yang berpotensi dikembangkan menjadi produk pangan fungsional bernilai tambah tinggi. Produksi palm oil powder melalui proses pengeringan menjadi salah satu bentuk hilirisasi sawit untuk meningkatkan nilai tambah dan diversifikasi produk berbasis minyak
sawit. Namun hubungan antara suhu pengeringan, retensi senyawa bioaktif, efisiensi energi, dan produktivitas pada berbagai teknologi pengeringan masih belum banyak disintesis secara komparatif dalam satu kerangka analisis. Penelitian ini bertujuan
mengkaji pengaruh suhu pengeringan terhadap retensi senyawa bioaktif, efisiensi energi, dan produktivitas pada produksi palm oil powder berbasis CPO. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan pendekatan PRISMA.
Pencarian literatur dilakukan pada berbagai basis data internasional untuk publikasi tahun 2000–2025. Sebanyak 51 artikel memenuhi kriteria inklusi, dengan 21 artikel utama digunakan dalam sintesis mendalam berdasarkan teknologi pengeringan, suhu operasi, retensi senyawa bioaktif, efisiensi energi, dan produktivitas proses. asil kajian menunjukkan bahwa peningkatan suhu pengeringan umumnya mempercepat proses pengeringan dan berpotensi meningkatkan produktivitas, namun dapat menurunkan retensi karotenoid, tokoferol, tokotrienol, serta aktivitas antioksidan akibat degradasi termal. Retensi karotenoid pada beberapa studi
dilaporkan menurun hingga sekitar 50–60% pada suhu pengeringan di atas 160°C. Freeze drying secara umum menghasilkan retensi senyawa bioaktif yang lebih tinggi dibandingkan teknologi lainnya, sedangkan spray drying memberikan keseimbangan
yang baik antara mutu produk, efisiensi energi, produktivitas, dan kemudahan penerapan industri. Hasil kajian ini dapat menjadi dasar dalam pemilihan teknologi pengeringan untuk mendukung hilirisasi sawit dan pengembangan pangan fungsional yang berkelanjutan.
