Diagnosa Kebuntingan Sapi Dengan Menggunakan Accu Zuur

Authors

  • Alfred Rudyanto Mage Kantor Camat Waigete Kabupaten Sikka Provinsi NusaTenggara Timur Jl. Raya Maumere-Larantuka, Waigete, Kab. Sikka, Nusa Tenggara Timur
  • Nuryanto Nuryanto Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Magelang Jl. Magelang-Kopeng, Km 7, Tegalrejo Kab. Magelang, Jawa Tengah
  • Sucipto Sucipto Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Magelang Jl. Magelang-Kopeng, Km 7, Tegalrejo Kab. Magelang, Jawa Tengah

Abstract

Kajian dilaksanakan selama 1 (satu) bulan, dari tanggal 1 Maret 2017 sampai dengan 31 Maret 2017, berlokasi di Laboratorium Ternak Besar dan Laboratorium Reproduksi STPP Magelang Jurusan Penyuluhan Peternakan di Magelang dan di Kandang Kelompok Ternak Sukomulyo Desa Bawang Kecamatan Pakis, jumlah sampel 10 ekor sapi betina tidak bunting, 10 ekor ternak sapi betina bunting dan 10 ekor sapi betina diduga bunting/telah dikawinkan, dengan usia kebuntingan 1-5 bulan.

Tujuan kajian ini adalah Ingin membuktikan apakah accu zuur dapat digunakan sebagai bahan untuk mendeteksi kebuntingan pada sapi. Metode kajian adalah individual urin sapi direaksikan dengan accu zuur, pada 10 ekor sapi tidak bunting, 10 ekor sapi positif bunting dan 10 ekor sapi disduga bunting / telah dikawinkan dan diamati selama 5-10 menit.

Hasil kajian menunjukan bahwa accu zuur yang direaksikan dengan urin sapi, pada sapi yang tidak bunting menunjukan hasil yang negatif (tidak terjadi perubahan warna dan tidak timbul gelembung gas fluoresensi), accu cuur yang direaksikan dengan 10 ekor urin sapi bunting menunjukan hasil yang positf (terjadi perubahan warna dan timbul gelembung gas), accu zuur yang direaksikan dengan 10 ekor sapi yang diduga bunting/telah dikawinkan menunjukan 8 ekor positif bunting (terjadi perubahan warna dan timbul gelembung gas fluoresensi) dan 2 ekor negatif (tidak terjadi perubahan warna/tidak timbul gas fluoresensi), namun setelah umur kebuntingan 4 bulan dengan palpasi rektal membuktikan 2 ekor sapi tersebut bunting.

References

Afdhal, H. Hormon-Hormon Plasenta. Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor.

Catchpole, H. R. 1977. Hormonal Mecanisms in Pregnan cy and Parturation. Dalam: Reproduction in Domestic Animals. 3rd ed. H. H. Cole and P. T. Cupps (ed). Academic Press. N. Y., London.

Frandson. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Hafez, E. S. E. 2000. Reproduction in Farm Animals. 7th ed. Lippincott Wiliams and Wilkins. Philadelphia.

______. 1980. Horses. Dalam: Reproduction in Farm Animals. 4th ed. E. S. E. Hafez ted). Lea and Febiger. Philadelphia.

Hunter, R. H. F. 1995. Fisiologi dan Teknologi Reproduksi Hewan Betina Domestik. Institut Teknologi Bandung, Bandung.

Heap, R. B . 1972. Liole of Hormones in Pregnancy. Dalam: Reproduction in Domestic Animals. 3. —a- Book R. Austin and R. V. Short (ed).press Univ. Cambridge.

Illawati, R. W. 2009. Efektifitas Penggunaan Berbagai Volume Asam Sulfat pekat (H2SO4) untuk Menguji Kandungan Estrogen dalam Urine Sapi Brahman Cross Bunting. Skripsi. Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian. Sijunjung.

______. 2012. Efektifitas dan Akurasi Penggunaan Berbagai Dosis Asam Sulfat (H2SO4) Pekat Dibandingkan Palpasi Per Rektal Terhadap Uji Kebuntingan Ternak Sapi.

L., W. Pratiwi, D. Pamungkas, D.B. Wijono, P.W. Prihadiri dan P. Situmorang. 2007. Peningkatan Produktivitas Sapi Potong Melalui Efisiensi Reproduksi. Laporan Penelitian Loka Sapi Potong.

Partodihardjo, S. 1992. Ilmu Reproduksi Hewan, Mutiara Sumber Widya. Jakarta.

______. 1987. Ilmu Reproduksi Hewan, Mutiara Sumber Widya. Jakarta.

______. 1982. Ilmu Reproduksi Hewan, Mutiara Sumber Widya. Jakarta.

Salisbury, G.W. dan Van Demark, N.L.1985. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan pada sapi. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Downloads

Published

2018-12-07

Issue

Section

Articles